Lokomotif Mallet : Tampak Muda diusia 100 Tahun

Menyambut 100 tahun Lokomotif Mallet, Feldbahnmuseum Frankfurt pada tanggal 13 Juni lalu merayakan acara tersebut dengan nuansa Indonesia. Acara siang hari itu dibuka dengan didahului sambutan oleh Ketua Feldbahnmuseum Mr. Udo Przygoda , Anggota Parlemen Kota Frankfurt Mr. Ulrich Caspar dan Act. Konjen Frankfurt Bpk. Diddy Hermawan.Pertunjukan Musik Angklung dari Grup Angklung Nusantara

Hari ulangtahun lokomotif berwarna hijau terang ini dimeriahkan oleh penampilan grup Angklung Nusantara yang membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia serta lagu-lagu bertema kereta api baik itu yang berasal dari Jerman maupun Indonesia. Suasana akrab dan bersahabat sangat terasa siang hari itu. Para undangan dan pengunjung yang terdiri dari masyarakat Jerman dan Indonesia terlihat berbaur dengan akrab menikmati berbagai hidangan khas Indonesia yang disajikan ditemani oleh lantunan musik angklung.

Menyambut 100 tahun Lokomotif Mallet, Feldbahnmuseum Frankfurt pada tanggal 13 Juni lalu merayakan acara tersebut dengan nuansa Indonesia. Acara siang hari itu dibuka dengan didahului sambutan oleh Ketua Feldbahnmuseum Mr. Udo Przygoda , Anggota Parlemen Kota Frankfurt Mr. Ulrich Caspar dan Act. Konjen Frankfurt Bpk. Diddy Hermawan.Pertunjukan Musik Angklung dari Grup Angklung Nusantara

Hari ulangtahun lokomotif berwarna hijau terang ini dimeriahkan oleh penampilan grup Angklung Nusantara yang membawakan lagu-lagu tradisional Indonesia serta lagu-lagu bertema kereta api baik itu yang berasal dari Jerman maupun Indonesia. Suasana akrab dan bersahabat sangat terasa siang hari itu. Para undangan dan pengunjung yang terdiri dari masyarakat Jerman dan Indonesia terlihat berbaur dengan akrab menikmati berbagai hidangan khas Indonesia yang disajikan ditemani oleh lantunan musik angklung.

Lokomotif Mallet memang memiliki sejarah yang erat hubungannya dengan Indonesia. Lokomotif ini dibuat pada tahun 1909 di Berlin atas pesanan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu untuk digunakan sebagai alat angkut tebu di Surabaya. Fungsinya sebagai alat angkut berlanjut sampai Indonesia merdeka dan masih digunakan sampai akhirnya kondisi lokomotif ini dianggap tidak lagi prima dan tidak layak dijadikan sebagai alat angkut berat. Pada tahun 1997, lokomotif tersebut tiba di Jerman sebagai hadiah dari Alm. Presiden Soeharto untuk Kanselir Jerman Helmult Kohl ketika mengunjungi Indonesia. Selama beberapa tahun lokomotif tua ini diperbaiki oleh Feldbahnmuseum di Frankfurt sehingga lokomotif tersebut dapat kembali berfungsi dengan baik.Jalan-jalan dengan Lokomotif Mallet

 

Sekarang di usianya yang ke-100 tahun, Lokomotif Mallet sama sekali tidak terlihat usang, malah terlihat baru dan muda. Lokomotif ini menjadi salah satu lokomotif ikon Feldbahnmuseum Frankfurt dan menjadi daya tarik bagi para pengunjung museum yang terletak di Romerhof nomor 15 Frankfurt am Main.

Pada perayaan seratus tahun, Sabtu siang lalu, para undangan dan pengunjung diberikan kesempatan untuk bertamasya singkat mengelilingi areal taman di sekitar museum dengan gerbong tua yang ditarik oleh Lokomotif Mallet. Semua undangan dan pengunjung yang berkesempatan menaiki kereta api ini terlihat sangat tertarik dan antusias menikmati perjalanan singkat dengan lokomotif yang sudah "pensiun" dari pekerjaannya di Indonesia. Bahkan salah satu pengunjung perayaan hari itu datang langsung dari Belanda untuk melihat lokomotif indah ini.